KHAZANAH ISLAM (2):
HIKAYAT-HIKAYAT MELAYU
Abdul Hadi W. M.
Klasifikasi Sastra Pada Zaman Islam
Seperti telah dikemukakan sastra yang berkembang pada zaman Islam dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
- Hikayat Nabi-nabi. Hikayat jenis ini lazim disebut Hikayat Anbiya’ atau
Versi Melayu dari kisah para nabi itu digubah berdasarkan sumber Arab dan Parsi seperti Kitab al-Mubtada wa Qisas al-Anbiya’ (Buku tentang Kejadian Alam dan Cerita Para Nabi) karangan Wahb ibn Munabba (w. 730 M), Ara`is al-Majalis: Qisas al-`Anbiya’ (Para Pengantin dalam Majlis: Kisah Para Nabi) karangan Tha`labi (abad ke-10 M), dan Qisas al-`Anbya’ karangan
Ibn Khalaf dari Nisyapur, Iran (Ismail Hamid 1983:19). Di Perpustakaan
Nasional Jakarta terdapat dua belas versi dari hikayat ini. Di antaranya
yang digubah oleh Ahmad bin Muhammad al-Syilabisi (dari Sulawesi),
Encik Husein dari Bugis dan Muhammad Syam dari Lingga, Riau. Pada
pendahuluan kitab ini dipaparkan kisah permulaan kejadian alam semesta
yang diawali dengan kejadian Nur Muhammad. Sejarah kejadian manusia,
menurut penulis kitab ini, tidak dimulai dari munculnya Adam, tetapi
dari kejadian Nur Muhammad di alam ketuhanan.
(2) Kisah-kisah berkenaan dengan riwayat dan kehidupan Nabi Muhammad s.a.w.
Dalam Hikayat Nur Muhamad atau Hikayat Kejadian Nur Muhamad dikisahkan
bahwa sebelum menciptakan segala sesuatu di dalam semesta Tuhan
menjadikan Nur Muhamad terlebih dahulu sebagai asas kejadian. Nur
Muhamad, yang artinya ialah cahaya yang tepuji, merupakan konsep sufi
tentang unsur ruhani segala ciptaan, khususnya manusia, yang digambarkan
sebagai cahaya terpuji yang berkilau-kilauan. Konsep ini dihubungkan
dengan pribadi Nabi Muhamad, yang akhlaq dan pengetahuannya terpuji
serta menerangi alam semesta.
Sebutan Nur Muhamad
diperkenalkan mula-mula pada abad ke-9 oleh Ibn Ishaq, penulis riwayat
Nabi Muhamad paling awal. Pada abad ke-10 M konsep itu dipopulerkan oleh
sufi terkemuka Sahl al-Tustari. Konsep nur dirujuk pada hadis qudsi dan
surah al-Nur al-Qur’an. Dalam versi Melayu hikayat ini sering
dimasukkan sebagai pendahuluan karya bercorak sejarah seperti Bustan al-Salatinkarangan Nuruddin al-Raniri, Hikayat Anbiya’ dan Tambo Minangkabau.Versi terkenal dari hikayat ini ialah gubahan Ahmad Syamsudin dari Aceh pada tahun 1646 M dengan judul Tarikh Mukhtasar(Ringkasan Sejarah), yang disadur dari naskah Parsi Rawdat al-Anbah (Syurga
Para Kekasih) karangan Husaini pada tahun 1495 M. Salinan terbaru ialah
karangan Ki Agus Haji Khatib Thaha dari Palembang yang ditulis pada
tahun 1856. Dalam bentuk puisi, hikayat ini muncul dalam syair-syair
tasawuf karangan Hamzah Fansuri pada abad ke-16 M.
Hikayat berkenaan dengan Nabi Muhamad yang juga tidak kalah penting ialah Hikayat Seribu Masalahyang
memaparkan masalah eskatologi Islam, yang diuraikan melalui berbagai
perumpamaan. Salah satu versi terkenal ialah yang ditulis di Aceh pada
akhir abad ke-17 M berdasarkan versi Arab Masa`il Abdullah bin Salam li Nabiyyin (Pertanyaan-pertanyaan
Abdullah bin Salam kepada Junjungan Nabi kita). Rngkasan ceritanya
adalah sebagai berikut: Ketika Nabi hijrah ke Yatsrib (Madinah), seorang
pemimpin Yahudi bernama Abdullah bin Salam menyatakan akan memeluk
agama Islam bersana 700 pengikutnya apabila Nabi dapat menjawab berbagai
pertanyaan. Abdullah bin Salam kemudian menanyakan soal-soal di sekitar
kejadian alam, kehidupan di akhirat, syurga dan neraka, pahala dan
siksaan. Nabi menjawab semua persoalan itu dengan memuaskan (Edwar
Djamaris 1982).
(3) Kisah Para Sahabat.
Hikayat Abu Syamah menceritakan keadilan khalifah Umar bin Khattab.
“Diceritakan Abu Syamah putra Umar bin Khattab sakit parah sekembalinya
dari medan perang di Khalwan. Setelah sembuh dari sakitnya ia
berjalan-jalan mengitari kota Madinah untuk menghirup udara. Seorang
Yahudi yang mengetahui keadaan Abu Syamah menemuinya dan menawarkan obat
untuk menyembuhkan penyakitnya. Abu Syamah menerima tawaran itu dan
pergi ke rumah orang Yahudi itu. Di rumah orang Yahudi itu dia diberi
minuman keras yang dikatakan sebagai obat, sehingga ia mabuk. Dalam
keadaan mabuk Abu Syamah menggauli anak gadis orang Yahudi itu sehingga
hamil. Orang Yahudi mengadu kepada Umar tentang perbuatan anaknya. Abu
Syamah dihukum rajam sampai mati”.
(4) Hikayat Para Wali.
Di antaranya yang masyhur ialah Hikayat
Rabiah al-Adawiyah, Hikayat Sultan Ibrahim bin Adam, Hikayat Bayazid
Bhistami, Hikayat Syekh Abdul Kadir Jailani, Hikayat Syekh Saman,
Hikayat Syekh Naqsabandi dan lain-lain.
(5) Hikayat Pahlawan atau Epos.
Sinopsis cerita:
”Setelah Amir Hamzah masuk Islam, keberaniannya segera diketahui oleh
kaum Muslimin. Beliau dipilih menjadi kepala pasukan tentara untuk
menaklukkan Yaman. Maharaja Nusyirwan dari negeri Parsi mendengar berita
kepahlawanan Amir Hamzah ini. Dia diundang ke istananya di Madain. Di
sana Smir Hamzah jatuh cinta kepada putri Muhrnigar. Bakhtik, wazir
maharaja Nusyirwan sangat benci pada orang Arab. Dia merancang
pembunuhan terhadap Amir Hamzah, yaitu dengan memberi syarat bahwa Amir
Hamzah dapat menikahi sang putri apabila sanggup pergi ke Mesir, Rum dan
Yunani untuk mengumpulkan upeti. Amir Hamzah menyanggupi syarat
tersebut. Dia berangkat ke Mesir. Namun malang, di sana dia ditangkap
polisi dan dimasukkan ke dalam penjara. Tetapi karena kelihaiannya, Amir
Hamzah bisa melarikan diri dari penjara, kemudian mengembara ke
berbagai negeri, terutama Asia Tengah. Setelah pulang dari pengembaraan,
oleh maharaja Nusyirwan dia diperbolehkan menikah dengan putri
Muhrnigar. Bakhtik tetap benci pada Amir Hamzah dan berusaha
mengalahkannya. Mata Amir Hamzah dibuat buta. Tetapi Nabi Khaidir
berhasil memulihkan penglihatan Amir Hamzah. Pada akhir cerita Bakhtik
dibunuh oleh tokoh bernama Umar Umayyah. Setelah peristiwa itu Amir
Hamzah memimpin pasukan memerangi raja-raja kafir dan menyebarkan agama
Islam. Tetapi malang sekali, Amir Hamzah akhirnya gugur ketika berperang
dengan Raja Lahad.”
Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah. Meskipun
hikayat ini ditulis berdasarkan sumber Arab, tetapi dikembangkan
menjadi sebuah hikayat oleh penulis-penulis Parsi pada abad ke-14 M.
Dasar ceritanya ialah legenda yang hidup di kalangan pengikut sekte
Kaisaniya, sebuah sekte dari madzhab Syiah yang berbeda dari sekte-sekte
Syiah lain seperti aliranImam Duabelas (Imamiya), Imam Tujuh
(Ismailiya), Imam Lima (Zaidiya) dan lain-lain. Sekte-sekte Syiah yang
lain berpendirian bahwa hanya keturunan Ali bin Thalib dan Fatimah saja
yang berhak menjabat Imam, maka sekte Kaisaniya menganggap bahwa jabatan
imamah berakhir setelah wafatnya Muhammad Ali Hanafiyah. Hanafiyah
adalah putra Ali yang ketiga dari istrinya yang berasal dari suku Hanaf
dan yang dinikahi Ali setelah wafatnya Fatimah. Sekte ini dikembangkan
oleh Kaisan, pengasuh Hanafiyah yang sangat mengagumi kesalehan tuannya.
Dalam sastra Melayu hikayat ini telah dikenal sejak akhir abad ke-15 M
dan digubah besrdasarkan sumber Parsi yang ditulis pada pertengahan abad
ke-14 (Brakel 1975:5). Ringkasan ceritanya sebagai berikut: ”Ketika Ali
dipilih menjadi khalifah ke-4 setelah terbunuhnya Usman bin Affan,
Mu’awiya -- keponakan Usman yang menjabat sebagai gubernur Damaskus –
menentang keputusan itu. Dia merancang untuk membunuh Ali. Perang
berkobar antara pengikut Ali dan Mu’awiya. Keduanya memiliki kekuatan
yang seimbang. Bahkan dalam pertempuran yang menentukan pasukan Ali
berada di atas angin. Tetapi melalui cara yang licik, Mu’awiya
menawarkan perundingan. Dalam perundingan diputuskan untuk mengadakan tahkim,
yaitu melalui sebuah pemilihan yang dilakukan oleh beberapa hakim yang
ditunjuk oleh masing-masing pihak. Tahkim memutuskan Mu’awiya berhak
menjabat khalifa dan sejak itu resmilah Dinasti Umayya memerintah
kekhalifatan Islam. Pemerintahan Umayyah berlangsung antara tahun 662
hingga 749 M. Tidak lama setelah itu Ali dibunuh di Kufa dan para
pengikutnya terus melancarkan berbagai pembrontakan terhadap Umayya.
Pada masa pemerintahan Yazid, pengganti Mu’awiya, timbul pula
pembrontakan yang menewaskan Hasan dan Husein. Muhammad Hanafiya bangkit
dan mengumpulkan pasukan, kemudian melancarkan peperangan menentang
Yazid. Dalam sebuah pertempuran yang menentukan Yazid terbunuh secara
mengerikan, yaitu jatuh ke dalam danau yang penuh kobaran api. Setelah
itu Muhammad Hanafiya menobatkan putra Husainn, Zainal Abidin menjabat
sebagai imam. Ketika itu dia mendengar kabar bahwa bahwa tentara musuh
sedang berhimpun dalam sebuah gua. Dia pun pergi ke tempat itu untuk
memerangi mereka. Ketika dia masuk ke dalam gua, dia mendengar suara
ghaib yang memerintahkan agar dia jangan masuk ke dalam gua. Tetapi dia
tidak menghiraukan seruan itu. Dia terus saja membunuh musuh-musuhnya.
Tiba-tiba pintu gua tertutup dan dia tidak bisa keluar lagi dari
dalamnya.”
(6) Hikayat Petualangan campur percintaan.
Melengkapi hikayat bercorak Parsi muncul pula hikayat-hikayat yang
mengandung baik unsur Hindu maupun Islam seperti Hikayat Jaya
Langkara, Hikayat Gul Bakawali, Hikayat Si Miskin, Hikayat Isma Yatim,
Hikayat Nakhoda Asyik, Hikayat Nakhoda Muda, Hikayat Berma Syahdan,
Hikayah Syah Mardan, Hikayat Inderaputra dan lain-lain. Tokoh-tokoh
dalam hikayat ini adalah pahlawan tempatan dan lingkungan terjadinya
cerita juga di bumi Melayu, kecuali Hikayat Gul Bakawali.
Meskipun digubah dari cerita yang sudah ada pada zaman Hindu, namun
unsur Islam dari hikayat ini sangat jelas. Misalnya seperti terlihat
pada Hikayat Indraputra. Dalam hikayat ini unsur Islam tampak
pada hal-hal seperti berikut. (1) Diceritakan ketika berusia tujuh tahun
Inderaputra sudah fasih membaca al-Qur’an; (2) Beberapa naskah hikayat
ini dimulai dengan Basmallah; (3) Dalam pengembarannya Inderaputra
selalu mengingat keagungan Allah s.w.t., bahkan selalu berdoa dan
berzikir; (4) Ia hanya beristri empat orang; (5) Ayahnya Raja Bikrama
salat dan berdoa di masjid ketika mengetahui bahwa anaknya hilang
(Zalila Sharif dan Jamilah Haji Ahmad 1993:160).
(7) Hikayat Perumpamaan atau Alegori Sufi.
Dalam Mantiq al-Tayr diceritakan
bahwa masyarakat burung dari seluruh dunia berkumpul untuk membicarakan
kerajaan mereka yang kacau sebab tidak memiliki pemimpin atau raja.
Burung Hudhud tampil ke depan bahwa raja para burung sekarang ini berada
di puncak gunung Kaf, namanyaSimurgh. Jika kerajaan burung
ingin kembali pulih, kata Hudhud, burung-burung harus terbang
bersama-sama mencari raja diraja mereka. Penerbangan menuju puncak
gunung Qaf sangat sukar dan berbahaya. Tujuh lembah atau wadi harus
dilalui, yaitu: (1) Lembah Talab (pencarian); (2) Lembah`Isyq atau Cinta; (3) Lembah Makrifat; (4) Lembah Istihna atau kepuasan; (5) Lembah Tauhid; (6) Lembah Hayrat atau ketakjuban; (7) Lembah fana’, baqa’ dan faqir. Pada
mulanya burung-burung enggan melakukan perjalanan jauh yang sangat
sukar dan berbahaya itu. Tiap-tiap burung mengemukakan alasan yang
berbeda-beda. Burung Bulbul sudah terlanjur lengket cintanya pada bunga
mawar, sehingga menganggap perjalanan itu tidak perlu dilakukan. Elang
sudah merasa puas dengan kedudukannya sebagai raja budak duniawi.
Kutilang merasa lemah dan tidak berdaya. Merak sudah merasa enak tinggal
di taman yang indah. Hudhud tidak putus asa. Dia meyakinkan bahwa
penerbangan itu perlu dilakukan. Baru setelah itu burung-burung itu
bersedia melakukan penerbangan yang jauh dan sukar. Ternyata yang sampai
di tujuan hanya 30 ekor burung. Dalam bahasa Parsi tiga puluh artinya Si-murgh.Demikianlah
ketiga puluh ekor burung itu heran, sebab yang dijumpai tidak adalah
hakikat diri mereka sendiri (Jawad Shakur 1972).
Dalam tradisi sastra sufi, burung digunakan sebagai tamsil atau lambang
ruh manusia yang senantiasa gelisah disebabkan merindukan Tuhan, asal
usul keruhaniannya. Si-murgh bukan saja lambang hakikat diri manusia,
tetapi juga hakikat ketuhanan – yang walaupun kelihatannya jauh
letaknya, namun sebenarnya lebih dekat dari urat leher manusia sendiri.
Braginsky menemukan bahwaHikayat Burung Pingai dalam sastra Melayu ditransformasikan atau diubah suai langsung dari Mantiq al-Thayr. Simurgh
diganti dengan nama Burung Sultani, namun gambaran tentangnya mirip
dengan penggambaran `Attar tentang Simurgh. Karya `Attar itu juga
mengilhami Hamzah Fansuri menulis syair-syair menggunakan lambang
burung, seperti terlihat dalam ”Syair Tayr al`Uryan Unggas Sultani”.
Deskripsi dalam Hikayat Burung Pingai ialah
sebagai berikut: ”Nabi Sulaiman, raja binatang dan jin, memanggil semua
burung. Burung pertama yang muncul ialah Nuri, Khatib Agung di kalangan
burung-burung. Disusul Kasuari, Elang, Kelelawar, Pelatuk, Tekukur,
Merak, Gagak dan lain-lain. Di depan mereka Nabi Sulaiman bertanya
kepada burung Nuri, jalan apa yang harus ditempuh untuk mencapai rahasia
dan hakikat kehidupan? Nuri menjwab, melalui jalan tasawuf, yang
tahapan-tahapannya berjumlah tujuh (sebagaimana tujuh lembah keruhanian
dalam Mantiq al-Tayr). Nuri lantas memperlihatkan kearifannya
dengan menceritakan bahwa seorang kawannya mengeluh tidak dapat mengenal
Tuhan disebabkan buta dan tuli. Tetapi jalan tasawuf bukan jalan
inderawi, jadi tidak tergantung apakah orang itu tuli dan buta secara
jasmani. Kemudian Nuri menjelaskan bahwa jalan tasawuf selain sukar juga
berbahaya. Di laut kehidupan tidak mudah mendapat petunjuk.
Burung-burung yang mendengar keberatan menempuh jalan tasawuf.
Masing-masing mengemukakan alasan berbeda. Tetapi setelah duraikan
pentingnya perjalanan itu, pada akhirnya burung-burung bersedia
mengikuti petunjuk burung Nuri melakukan pengembaraan menuju Negeri
Kesempurnaan. Penulis menutup alegorinya dengan mengutip Hadis qudsi,
’Barang siapa mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya’. Setelah tujuan
dicapai burung-burung yang berhasil menempuh perjalanan itu, semuanya
takjub, heran dan memuji kearifan burung Nuri” (Ibid 141).
Demikian penggantian tokoh Hudhud dengan burung Nuri mempunyai alasan. Kata nur dalam
bahasa Arab berarti cahaya, jadi Burung Nuri yang dimaksud identik
dengan Burung Pingai, sebab arti pingai juga indah berkilau-kilauan.
Sebagai ganti ketidakhadiran Hudhud dalam versi Melayu, ditampilkan Nabi
Sulaiman. Dalam al-Qur’an 27:20-28 (Surah al-Naml), disebutkan burung
Hudhud merupakan burung kesayangan Nabi Sulaiman.
(8) Cerita Berbingkai.
(9) Kisah Jenaka.